Mencinta. Disana ada transformasi, dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik lagi, dari pahit menjadi manis, pun sebaliknya, dari manis menjadi pahit. Too much, sulit untuk diurai satu-satu. Namun, kebenaran tetaplah muaranya. Meski juga diawali oleh sebuah hasrat besar untuk memiliki (insan lawan jenis) yang bisa saja merancukan kebenaran-kebenaran itu, toh bagi siapapun, hati adalah pemeran utamanya.
Tuhan memberikan wajah yang berbeda, warna kulit yang berbeda, bahkan iris yang menjadikan warna mata berbeda, Australian hijau, Southeast Asian hitam sebagian lagi coklat, tapi Hati tetaplah sama pada dasarnya. Kenapa?, karena Tuhan memberikan hati kepada setiap insan agar dia bisa mengendus kebenaran hakiki. Bahkan mewujudkan kebenaran itu untuk dirinya, untuk sesama, dan untuk dikembalikan kepada Tuhan-nya. Si Insan tersenyum, Si Sesama tersenyum dan Tuhan-pun pasti tersenyum.
Pernah dengar yang ini, "Semua manusia dilahirkan dalam keadaan Fitrah". Itu menjadi sangat cukup bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Saat dia mencinta dan tampaknya "manis berubah pahit" yang dia dapat, dia menangis, dia sedih. Namun sebenarnya, buliran tangis dan sedihnya adalah karena dia akan kehilangan kebaikan-kebaikan masa depan, andai ia jadi hidup bersama dengan si pujaan hati.
Si Hati pun diuji, akankah dia hanya kehilangan kebaikan-kebaikan masa depan?, ataukah juga akan kehilangan kebaikan-kebaikan masa kini?.
Tuhan itu tidak kemana-mana, karena sebenarnya Dia tinggal di hati. Dia tidak pernah meninggalkan makhluk-Nya. Jadi semestinya, dalam manis ataupun pahit sebuah Cinta, kebenaran itu selalu bersemayam, kebenaran adalah Tuhan, Tuhan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah hakikat sebuah kebaikan. Hingga yang paling puncak, Tuhan adalah Cinta, Cinta adalah untuk Tuhan.
Dia yang tak mampu mendengar suara Tuhan dari dalam hatinya, itu karena dia sendiri yang meninggalkan Tuhan-nya. Dia tidak menjabat realita dengan perbuatan, perkataan dan pemikiran atas nama Tuhan. Dialah yang akan kehilangan kebaikan-kebaikan masa depan, sekaligus kehilangan kebaikan-kebaikan masa kini.
Sementara Dia yang selalu merasakan eksistensi Tuhan di lubuk hatinya, dia bisa mendengar jernih meski bisikan itu sangat lirih yang itu adalah suara Tuhan. Ketika dia harus mendapati sebuah Cinta Pahit yang tak memihak, diapun bisa merasakan
keikhlasan, seraya melepas Si pujaan hati pergi menjemput kebaikan-kebaikan masa depan dengan satu insan yang lain. Dan sungguh, Tuhan menggantikannya dengan kebaikan-kebaikan masa kini.
Untuk dia, aku cuma punya Hati. Untuk Tuhan, aku punya Cinta.