As I lay down in my couch...something hit me..I've been dealing with some ungrateful and self centered people in the past! Dunno why thou..those peeps just walk in front of me uninvited.. As the time goes by I realize I've made a huge mistake and decided to let them go..hey don't get me wrong..I did thought about it clearly..but then again..the idea of keeping them around me just soooo yuckieeee..as in make me sick kind'a yuck..so there you go.. And even thou' the string no longer exist..those peeps just keep on pushing me to the edge..until they no longer approach me with their high self esteem..whatever that is! Just so you know peeps..what you did to me was pure evil..and even thou' it seems that you had a blast..but I know that deep inside your little heart..misery linger! Well no worries peeps..have fun with your pathetic life and one thing for sure..don't feel sorry for me!
Sunday, May 13, 2012
Thursday, March 22, 2012
Sunday, March 4, 2012
A Time for Everything
For everything there is a season,
and a time for every matter under heaven:
a time to be born, and a time to die;
a time to plant, and a time to pluck up what is planted;
a time to kill, and a time to heal;
a time to break down, and a time to build up;
a time to weep, and a time to laugh;
a time to mourn, and a time to dance;
a time to cast away stones, and a time to gather stones together;
a time to embrace, and a time to refrain from embracing;
a time to seek, and a time to lose;
a time to keep, and a time to cast away;
a time to tear, and a time to sew;
a time to keep silence, and a time to speak;
a time to love, and a time to hate;
a time for war, and a time for peace.
Sunday, January 29, 2012
I tweet therefore i'm powerful
Cobalah menyobek kertas di buku macam yellow pages. Gampang bukan? Nah, sekarang coba anda tumpuk kertas dari dua buku, selipkan kertas dengan kertas lain satu persatu. Tidak perlu banyak, sedikit saja. Lalu coba lagi menyobeknya. Sulit. Hal yang sama berlaku untuk benda lain, yang tampak rapuh, kalau disatukan jadi kuat. Nah, manusia juga begitu.
Semua revolusi itu cuma akan jadi wacana kalau tidak ada sekian banyak manusia yang mendukungnya. Hosni Mubarak tidak akan turun jika jutaan orang tidak turun ke jalan, tidak menduduki Tahrir Square.
Di jaman social media, menggerakan massa menjadi sedemikian mudah. Juga, bermain isu. Amarah, rasa kaget, keterlibatan dapat dengan mudah diarahkan dengan melempar isu. Kadang, kita seringkali tidak perduli dari mana informasi berasal, benar atau tidak. Saat mayoritas yang kita lihat berseru A, maka kita kan ikut menyerukan A.
Di ranah sosial media lagi, sebagian orang yang di kehidupan nyata mungkin tidak berpengaruh, mereka bukan tokoh politik, bukan aktivis, tapi dengan modal jempol dan statement statement yang menarik, katakan saja di twitter, mereka didengar puluhan ribu atau bahkan jutaan orang. Keterikatan follower dengan tokoh twitter ini terkadang bisa sangat tinggi. Apa yang dilontarkan mereka dianggap satu kebenaran oleh followersnya, maka wajar saja saat ada perang twit, biasanya berlanjut dengan perang followers.
Bayangkan saat seseorang yang followersnya sekian banyak, melakukan provokasi, bermain isu dan menggerakan opini dan massa. Mungkin terdengar terlalu berteori konspirasi, tapi ada lho account account tertentu yang memang dibuat untuk bermain isu.
Mungkin anda sulit membayangkan 140 karakter dapat mengubah dunia. Tapi tulisan dan gambar dapat menggerakan massa. Satu statement dapat berimplikasi besar saat direspon sedemikian rupa oleh jutaan orang. Deretan huruf dapat berubah jadi kekuatan besar, hanya dan jika dipersepsi sedemikian rupa oleh massa.
People power? I can say twitter power now. Sama saja sebenarnya, people power yang diakomodir, let say, new way of socialize. Karena itu pula, tidak tanggung tanggung CIA - Central Intelligence Agency- memonitor jutaan tweets yang beredar.
Tapi tak usahlah berpikir konspirasi teori semacam itu. Hal sederhana saja, sekarang banyak yang merasa punya kekuatan karena merasa punya massa. Atau merasa kuat saat berlindung di balik social media, karena tidak perlu menghadapi langsung konsekuensi yang ada kalau berhadapan langsung di dunia nyata.
Twitter is powerful, but still, it is a world beneath the real world. Either you have power in social media, or in real life, as Spiderman's famous quote "With great power comes great responsibility," so use it wisely. Not the twitter I meant, but the power. Saya dan anda masih bebas menyampah di twitter kok.
Lagipula, dunia nyata ini sudah penuh dengan keseriusan, why don't we spead some laugh and joy in twitter. Let the twitter bird sing with joy, cause it'll produce a nice timeline. Keep twitting, folks!
Semua revolusi itu cuma akan jadi wacana kalau tidak ada sekian banyak manusia yang mendukungnya. Hosni Mubarak tidak akan turun jika jutaan orang tidak turun ke jalan, tidak menduduki Tahrir Square.
Di jaman social media, menggerakan massa menjadi sedemikian mudah. Juga, bermain isu. Amarah, rasa kaget, keterlibatan dapat dengan mudah diarahkan dengan melempar isu. Kadang, kita seringkali tidak perduli dari mana informasi berasal, benar atau tidak. Saat mayoritas yang kita lihat berseru A, maka kita kan ikut menyerukan A.
Di ranah sosial media lagi, sebagian orang yang di kehidupan nyata mungkin tidak berpengaruh, mereka bukan tokoh politik, bukan aktivis, tapi dengan modal jempol dan statement statement yang menarik, katakan saja di twitter, mereka didengar puluhan ribu atau bahkan jutaan orang. Keterikatan follower dengan tokoh twitter ini terkadang bisa sangat tinggi. Apa yang dilontarkan mereka dianggap satu kebenaran oleh followersnya, maka wajar saja saat ada perang twit, biasanya berlanjut dengan perang followers.
Bayangkan saat seseorang yang followersnya sekian banyak, melakukan provokasi, bermain isu dan menggerakan opini dan massa. Mungkin terdengar terlalu berteori konspirasi, tapi ada lho account account tertentu yang memang dibuat untuk bermain isu.
Mungkin anda sulit membayangkan 140 karakter dapat mengubah dunia. Tapi tulisan dan gambar dapat menggerakan massa. Satu statement dapat berimplikasi besar saat direspon sedemikian rupa oleh jutaan orang. Deretan huruf dapat berubah jadi kekuatan besar, hanya dan jika dipersepsi sedemikian rupa oleh massa.
People power? I can say twitter power now. Sama saja sebenarnya, people power yang diakomodir, let say, new way of socialize. Karena itu pula, tidak tanggung tanggung CIA - Central Intelligence Agency- memonitor jutaan tweets yang beredar.
Tapi tak usahlah berpikir konspirasi teori semacam itu. Hal sederhana saja, sekarang banyak yang merasa punya kekuatan karena merasa punya massa. Atau merasa kuat saat berlindung di balik social media, karena tidak perlu menghadapi langsung konsekuensi yang ada kalau berhadapan langsung di dunia nyata.
Twitter is powerful, but still, it is a world beneath the real world. Either you have power in social media, or in real life, as Spiderman's famous quote "With great power comes great responsibility," so use it wisely. Not the twitter I meant, but the power. Saya dan anda masih bebas menyampah di twitter kok.
Lagipula, dunia nyata ini sudah penuh dengan keseriusan, why don't we spead some laugh and joy in twitter. Let the twitter bird sing with joy, cause it'll produce a nice timeline. Keep twitting, folks!
Sunday, January 8, 2012
Untuk Sebuah Nama
Dua bola mata indah selalu menggoda...
menatapku indah berjuta makna...
lugu bibir mungil buat tertawa kala bicara...
sejukkan hati yang tengah menyala...
terpekur aku di sunyinya malam...
dibawah lampu kamarku yang temaram...
tak banyak bicara hanya terdiam...
ingin kusampaikan rasa hati terdalam...
malam terasa sangat panjang...
tapi tak mengapa, karena akupun senang...
wajah cantiknya selalu terkenang...
tutur halusnya slalu terbayang...
angin... sampaikan asaku pada dia...
menatapku indah berjuta makna...
lugu bibir mungil buat tertawa kala bicara...
sejukkan hati yang tengah menyala...
terpekur aku di sunyinya malam...
dibawah lampu kamarku yang temaram...
tak banyak bicara hanya terdiam...
ingin kusampaikan rasa hati terdalam...
malam terasa sangat panjang...
tapi tak mengapa, karena akupun senang...
wajah cantiknya selalu terkenang...
tutur halusnya slalu terbayang...
angin... sampaikan asaku pada dia...
Subscribe to:
Posts (Atom)