Wednesday, October 27, 2010

Ibunda Pianis 4 jari

Seorang wanita muda mengandung anak yang diperkirakan akan cacat. Keluarga besarnya menganjurkan wanita itu untuk menggugurkan anak tersebut. Namun, rasa keibuan membuatnya memutuskan lain. “Ini anakku, darah dagingku sendiri, tidak mungkin aku gugurkan,” ujarnya

Ia pun kemudian melahirkan seorang bayi perempuan yang ternyata memang cacat. Bayi tersebut hanya mempunyai empat jari tangan., kedua kakinya hanya sebatas lutut, dan mengalami keterbelakangan mental. Berbeda dengan keluarganya yang mengaanggapnya aib dan meminta agar menyerahkan anak itu ke panti asuhan, wanita itu tetap menyambut sang bayi denga suka cita. “Bagiku ia cantik,” ujar ibu tersebut

Sungguh tak mudah baginya untuk membesarkan anak yang memiliki banyak kekurangan itu sendirian, karena suaminya justru juga membutuhkan perawatan dirinya. Sang suami menderita lumpuh.

Ia mengajari anaknya bermain piano pada umur 7 tahun, padahal memegang pensil pun ia tak bisa. Kakinya tak mampu menginjak pedal, karena itu pedal piano ditinggikan. Keterbelakangan mentalnya, membuat si anak tidak bisa berhitung, padahal untuk main piano diperlukan kemampuan berhitung. Ia melatih anaknya denag cara memindahklan tangannya dari satu tuts ke tuts yang lainnya. Ia pun memanggil guru piano untuk mengajari putri tercintanya itu. Untuk senantisa meningkatkan kemampuannya, ia bahkan mengganti guru pianonya beberapa kali

Namun cobaan berat kemudian datang mendera, seluruh keluarga itu menderita sakit. Kaki si anak harus dioperasi, suaminya sakit parah, dan wanita itu terkena kanker payudara. Namun ia terus berjuang mengatasi semua persoalan keluarganya.

Ketika si anak mogok main piano, ia terus memotivasi, “Tenang saja, Tuhan akan membantu dan berada di samping kamu. Karena kamu punya kekurangan , Tuhan pun pasti akan lebih memberi”.

Bertahun-tahun berlalu, anak itu kemudian menjadi pianis handal. Ia keliling dunia menggelar konser, meski hanya denag 4 jari. Pianis itu bernama Hee Ah Lee yang kini menjadi warga kehormatan Korea.

Kesuksesan Hee Ah tak mungkin diraih tanpa sosok sang ibu. Berkat ibunya, ia mampu berkembang sesuai arti namanya: ‘suka cita terus tumbuh seperti tunas pohon’.

Kesuksesan hidup pianis 4 jari Hee Ah Lee sesungguhnya menyimpan kisah tentang tanggung jawab yang diperankan oleh Woo Kap Sun (50), Baik sebagia ibu maupun istri Woo dengan segala perjuanganya memberika pembelajaran justru ketika banyak orang yang lari dari tanggung jawab kehidupan . Ada orang yang ketika didra kesulitan , mengalhiri hidupnya sendiri, bahkan ada juga yang menghabisi nyawa seluruh keluarganya. Sebagian lagi mengatasi kesulitan hidup dengan menyulitkan kehidupan orang lain.Setiap manusia dilahirkan denga tanggung jawab dipundaknya. Seseoarnga yang bertanggung jawab adalah seseorang yang siap menerima tugas dan kewajiban baik sebagai anak, orang tua, karyawan, pimpinan dll.

Tanggung jawab sering diidentikan dengan beban berat, sehingga banyak orang yang melepaskan tanggung jawabnya begitu saja. Pepatah ‘Lempar batu sembunyi tangan’ menggambarkan orang yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Ketika seorang tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik maka akibatnya bisa fatal.

Sunday, October 3, 2010

Tiada Duka Yang Abadi

Tiada duka yang abadi didunia
Tiada sepi merantaimu selamanya
Malam kan berakhir, hari kan berganti
Takdir hidup ‘kan dijalani

Tangis dan tawa nyanyian yang mengiring
Hati yang rindukan cinta dijalan-Mu
Namun ku percaya hati meyakini
Semua akan indah pada akhirnya

Andai bisa ku mengulang
Waktu hilang dan terbuang
Andai bisa perbaiki segala yang terjadi
Tapi waktu tak berhenti
Tapi detik tak kembali

Waktu berputar rebulan dan matahari
Bunga yang mekar akan layu akan mati
Malam ‘kan berakhir, hari ‘kan berganti
Takdir hidup ‘kan dijalani

Andai bisa ku mengulang
Waktu hilang dan terbuang
Andai bisa perbaiki segala yang terjadi
Tapi waktu tak berhenti
Tapi detik tak kembali
Harap ampunkan hamba-Mu ini